Pages

Friday, September 17, 2010

Lebaran 2010


Pesan Tiket.



Lebaran 2010 tepat hari Jum'at tanggal 10 September 2010. Mulai dari awal aku tanya pada anakku untuk transportasi lebaran. Pilihannya hanya ada dua, naik mobil atau naik kereta api. Dengan tegas anakku Denok bilang kereta api. Pilihan dia tepat. Kami punya pengalaman ketika naik mobil ditahun-tahun lalu, dijalan macet dan lama. Akibatnya sampai tujuan badan capek dan celakanya atau untungnya capeknya berjamaah. Recovery capek memerlukan waktu lumayan tidak sedikit dan menghabiskan waktu libur di Madiun.
Sebulan tepatnya tigapuluh hari sebelumnya (menurut aturan PT KAI, yang punya kereta) perburuan tiketpun dimulai. Sehabis sahur dan shalat subuh, dengan penuh semangat membara berangkat bersama istri ke pemesanan tiket Stasiun KA Bandung jalan Kebon Kawung. Tidak rame sampai mengular seperti di TV, tapi cukup lumayan banyak. Ada sekitar 30 orang yang ngantri, bagusnya ngantri dengan tertib. Maksudku mereka tertib walaupun pada duduk menggerombol dan tidak dalam suatu antrian. Sudah membawa formulir isian pemesanan tiket. Sialnya aku belum punya formulirnya. Kelihatannya mereka sudah siap hari-hari sebelumnya, atau dikasih sama yang sudah punya? Untungnya bisa minta pada pak penjaganya.
Sambil menghabiskan waktu aku melihat daftar kereta dan harga karcisnya. Aku benar-benar takjub melihat harga tiketnya. Bayangkan, kereta bisnis Lodaya biasanya kalau normal Bandung Sala itu sekitar Rp 90 ribu dihari lebaran ini menjadi di atas 170 sampai dengan 200 ribu rupiah. Sebuah harga kenyamanan dan memang harus mahal. Harga itu murah dibandingkan dengan gerutuan di atas mobil karena macet dan penyakit ikutannya, panas, lapar dan yang paling tidak tahan adalah omelan. Kalau omelan dari anak istri mungkin masih bisa tahan. Tapi jika omelan itu dari diri sendiri yang di stimulasi dari nafsu, dari mana bisa menghindar. Merutuk berkepanjangan ujungnya. Mengomel, menggerutu itu awal dari ketidak bersyukuran. Kalau itu yang terjadi, percuma puasa selama 30 hari.
Itu tadi harga karcis dari Bandung ke Solo, kalau dari Bandung menuju Madiun dengan kereta bisnis Mutiara Selatan menjadi sekitar 230 sampai 250 ribu rupiah. Perbedaan harga yang lumayan, paling tidak bagiku. Jika aku beli tiket ke Madiun 4 kursi maka untuk ke Sala dapat 5 kursi. Itu sebabnya dengan berbekal pengiritan dan sedikit pelit aku memilih kereta Lodaya. Pertimbangan lainnya adalah biasanya tingkat kepadatan kereta Muatiara Selatan yang tinggi hingga layaknya bus kota, penuh sesak dan pengap. Apapun alasannya aku cuma punya sedikit uang. Titik. Dari Sala ke Madiun biar naik bus. Nanti akhirnya aku merasa keputusanku salah.

Tuesday, September 07, 2010

Doa Rabiah dari Basrah

Wahai Tuhanku, apapun jua bagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada musuh-musuhMu dan apapun jua bagian dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada sahabat-sahabatMu.

Bagiku Dikau cukup.

Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya.

Dari kesegalaan di semesta ini pilihanku adalah berangkat menemuiMu.

Inilah yang akan kuucapkan : “ Dikaulah segalanya.”

Wahai Tuhanku, tandamata paling permata dalam hatiku ialah harapanku padaMu dan kata paling gula di lidahku adalah pujian padaMu dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.

Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahan hidup duniawi ini tanpa mengingatMu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia ini tanpa mengingatMu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia ini akan tiba tanpa menatap wajahMu?

Wahai Tuhanku, inilah keluhanku.

Daku ini orang asing di kerajaanMu dan mati kesepian ditengah-tengah penyembahMu!

Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku kelewang di tengah penakluk perkasa. Jelmakan daku jadi tongkat kecil penunjuk jalan orang buta.

Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku pohon besar yang kelak jadi tombak dan gada peperangan. Jelmakan daku jadi kayu rimbun di tepi jalan tempat musafir berteduh memijit kakinya yang lelah. Wahai Tuhanku, sesudah aku mati, masukkanlah daku ke neraka dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka sehingga tak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana.

Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka, jadikan neraka tempat kediamanku. Dan bilaman daku menyembahMu karena gairah nikmat di surga, maka tutupkan pintu sorga selamanya bagiku.

Tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau semata-mata maka jangan larang daku menatap Keindahan Mu Yang Abadi.

++++++++++++***************++++++++++++

Puisi ini saya baca di koran Kompas Minggu kira-kira tahun 80an dirumah temanku ketika liburan kuliah. Membaca adalah kesenanganku sesudah makan, ketika itu. Mungkin juga sampai sekarang. Makanya demi membaca aku rela berbekal malu pergi ke rumah temanku itu. Ketika tahun-tahun itu membeli koran bagiku sesuatu yang mahal. Nunut baca merupakan alternatif baca gratis dan menjadi kesenanganku. Cuma butuh modal nekad dan sedikit ken-dableg-an. Nekad karena sering berkunjung ke rumah teman dan ndableg karena mereka mungkin bosan aku selalu pinjam korannya.

Hingga suatu hari aku baca puisi Doa Rabiah dari Basrah di atas pada Kompas Minggu tahun 1987 dalam suatu cerpen karya Danarto. Aku kira puisi ini karya Danarto dan dimasukkan dalam cerpennya dengan judul seperti di atas. Sungguh, ketika itu, aku masih belum juga tahu seseorang dengan nama Rabiah yang dapat “mengarang” puisi begitu hebatnya. Rabiah, bagiku hanya sekedar nama karangan Danarto untuk menciptakan ceritanya yang aneh. Itupun sudah membuatku “mabuk” khayalan tentang sesorang dapat berpikir dan bertindak hebat seperti puisi itu. Dan khayalan itu memberi inspirasi padaku tentang kerendahhatian, pengorbanan dan cinta yang tulus pada Tuhan. Bukan kepada selainNya. Puisi di atas mengatakan bahwa surga itu hanyalah makhluk Tuhan dan hadiah bagi siapapun yang mendekat padaNya.

Betapa tidak, jika ada orang yang seperti dalam puisi di atas. Berani mengorbankan dirinya untuk menutup neraka biar orang lain tidak dapat masuk. Jika orang lain tahu diri dan tahu berterima kasih mungkin kita masih dapat menghibur diri, tapi kebanyakan manusia kan tidak berterima kasih. Jangan bantah, nature manusia memang jarang yang tahu berterima kasih dan bersyukur. Dijamin di Qur’an. Sungguh mulanya aku ragu pendapat Rabiah ini. Berani amat dia. Mungkin gabungan antara kenekatan dan kebeserahdirian atau nekat dalam berserah diri.

Permenungan, pencarian dan pengalaman yang mengabarkan padaku mengenai kebenaran puisi Rabiah. Mengenai sedikit orang yang dapat memahami kata sakti Rabiah ini. Pengalaman aku alami mulai dari terantuk kerikil kecil kehidupan hingga terbentur batu besar hingga aku mengakui kekerdilan diriku. Pengalamanlah yang membentuk diriku hingga mempunyai pemahaman betapa tak berartinya aku. Mencoba berusaha untuk bangkit dan melawan keadaan bukan tak kulakukan. Pembenaman demi pembenaman yang aku terima, sehingga Tuhan memudahkan aku untuk memahami puisi Rabiah dia atas. Karena pada dasarnya puisi Rabiah tersebut merupakan refleksi dari peniadaan diri dari keberadaan Tuhan. Peniadaan diri (fana) dari kesemestaan Tuhan. Betapa tidak dia rela menjadi tongkat penunjuk jalan dari pada gada perang. Tongkat penunjuk jalan menunjukkan tingkat kebergunaan yang “kecil” dibandingkan dengan gada perang yang menunjukkan kegagahan tampilan.

Dikemudian hari aku baru tahu bahwa Rabiah memang nama seorang Sufi wanita yang hebat. Kekagumanku pada Rabiah semakin menjadi, hingga aku mencari buku mengenai Rabiah. Dan dimulai dari puisi ini. Terima kasih Rabiah, Terima kasih Tuhan.

Monday, September 06, 2010

Mencoba belajar menulis


Parah, itulah kesimpulanku sekarang ini tentang diriku. Betapa tidak? Aku lulusan perguruan tinggi tetapi ketika menulis untuk laporan untuk pekerjaan mendadak menjadi seperti patung. Asem tenan. Bukan sekali ini tulisan laporan pertanggungjawaban menjadi berhenti, sebelum ini laporan pertanggungjawaban di Serikat Pekerja juga tak bergerak. Sesuatu harus aku lakukan untuk mengubah semua itu. Aku harus belajar menulis, menulis dan menulis. Kembali seperti anak kelas satu SD.
Budaya omong yang selama ini berlaku padaku tidak bisa dengan serta merta saya tuangkan menjadi tulisan. Omong sih enak dilakukan, tanpa pikirpun dapat terjadi aliran omongan. Tulis….? Perlu alur cerita, gaya bahasa dan sederet aturan lain yang dalam budaya tutur sedikir diabaikan. Mungkin karena adanya ekspresi dari si pencerita. Belajar menulis adalah belajar bernalar, bercerita, beralur pikir yang runut/tertib dan ber-ber yang lain, kelihatannya hal yang selama ini tidak ada padaku.
Inilah tekadku sekarang ini “Belajar menulis”. Tekad yang harus aku berjuang untuk mewujudkannya, kalau bisa secepatnya. Butuh kenekadan dan kengawuran. Paling tidak diawal untuk belajar menulis. Biar percara diri bahwa aku dapat menulis. Baik atau buruk hasil tulisanku itu soal nanti, yang penting menulis. Sekarang waktunya mencoba mengingat-ingat cara menulis yang mungkin dulu pernah aku lakukan. Mencoba merunutkan cara berpikirku.
Terpikir olehku tentang penghargaanku pada teman-temen dikantor yang mampu menulis dengan percaya diri tinggi walaupun kemampuan akademisnya masih berada dibawah aku. Juga ketika anakku menulis cerita untuk tulisannya maupun di forum internet, sangat fasih sekali dia. Apa yang ada dipikirannya langsung dia tulis. Percaya diri tingkat tinggi. Aku belajar dari mereka. Belajar percaya diri supaya tetap keluar yang namanya tulisan. Diusahakan tidak ngawur. Targetku satu tulisan satu hari. Target muluk memang, apalagi bagi pemula seperti diriku. Pemula yang kadaluwarsa karena aku sudah bukan muda lagi.
Jadi mulai sekarang aku harus menulis, ingat “menulis” titik.