Pages

Tuesday, September 07, 2010

Doa Rabiah dari Basrah

Wahai Tuhanku, apapun jua bagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada musuh-musuhMu dan apapun jua bagian dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada sahabat-sahabatMu.

Bagiku Dikau cukup.

Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya.

Dari kesegalaan di semesta ini pilihanku adalah berangkat menemuiMu.

Inilah yang akan kuucapkan : “ Dikaulah segalanya.”

Wahai Tuhanku, tandamata paling permata dalam hatiku ialah harapanku padaMu dan kata paling gula di lidahku adalah pujian padaMu dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.

Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahan hidup duniawi ini tanpa mengingatMu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia ini tanpa mengingatMu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia ini akan tiba tanpa menatap wajahMu?

Wahai Tuhanku, inilah keluhanku.

Daku ini orang asing di kerajaanMu dan mati kesepian ditengah-tengah penyembahMu!

Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku kelewang di tengah penakluk perkasa. Jelmakan daku jadi tongkat kecil penunjuk jalan orang buta.

Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku pohon besar yang kelak jadi tombak dan gada peperangan. Jelmakan daku jadi kayu rimbun di tepi jalan tempat musafir berteduh memijit kakinya yang lelah. Wahai Tuhanku, sesudah aku mati, masukkanlah daku ke neraka dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka sehingga tak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana.

Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka, jadikan neraka tempat kediamanku. Dan bilaman daku menyembahMu karena gairah nikmat di surga, maka tutupkan pintu sorga selamanya bagiku.

Tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau semata-mata maka jangan larang daku menatap Keindahan Mu Yang Abadi.

++++++++++++***************++++++++++++

Puisi ini saya baca di koran Kompas Minggu kira-kira tahun 80an dirumah temanku ketika liburan kuliah. Membaca adalah kesenanganku sesudah makan, ketika itu. Mungkin juga sampai sekarang. Makanya demi membaca aku rela berbekal malu pergi ke rumah temanku itu. Ketika tahun-tahun itu membeli koran bagiku sesuatu yang mahal. Nunut baca merupakan alternatif baca gratis dan menjadi kesenanganku. Cuma butuh modal nekad dan sedikit ken-dableg-an. Nekad karena sering berkunjung ke rumah teman dan ndableg karena mereka mungkin bosan aku selalu pinjam korannya.

Hingga suatu hari aku baca puisi Doa Rabiah dari Basrah di atas pada Kompas Minggu tahun 1987 dalam suatu cerpen karya Danarto. Aku kira puisi ini karya Danarto dan dimasukkan dalam cerpennya dengan judul seperti di atas. Sungguh, ketika itu, aku masih belum juga tahu seseorang dengan nama Rabiah yang dapat “mengarang” puisi begitu hebatnya. Rabiah, bagiku hanya sekedar nama karangan Danarto untuk menciptakan ceritanya yang aneh. Itupun sudah membuatku “mabuk” khayalan tentang sesorang dapat berpikir dan bertindak hebat seperti puisi itu. Dan khayalan itu memberi inspirasi padaku tentang kerendahhatian, pengorbanan dan cinta yang tulus pada Tuhan. Bukan kepada selainNya. Puisi di atas mengatakan bahwa surga itu hanyalah makhluk Tuhan dan hadiah bagi siapapun yang mendekat padaNya.

Betapa tidak, jika ada orang yang seperti dalam puisi di atas. Berani mengorbankan dirinya untuk menutup neraka biar orang lain tidak dapat masuk. Jika orang lain tahu diri dan tahu berterima kasih mungkin kita masih dapat menghibur diri, tapi kebanyakan manusia kan tidak berterima kasih. Jangan bantah, nature manusia memang jarang yang tahu berterima kasih dan bersyukur. Dijamin di Qur’an. Sungguh mulanya aku ragu pendapat Rabiah ini. Berani amat dia. Mungkin gabungan antara kenekatan dan kebeserahdirian atau nekat dalam berserah diri.

Permenungan, pencarian dan pengalaman yang mengabarkan padaku mengenai kebenaran puisi Rabiah. Mengenai sedikit orang yang dapat memahami kata sakti Rabiah ini. Pengalaman aku alami mulai dari terantuk kerikil kecil kehidupan hingga terbentur batu besar hingga aku mengakui kekerdilan diriku. Pengalamanlah yang membentuk diriku hingga mempunyai pemahaman betapa tak berartinya aku. Mencoba berusaha untuk bangkit dan melawan keadaan bukan tak kulakukan. Pembenaman demi pembenaman yang aku terima, sehingga Tuhan memudahkan aku untuk memahami puisi Rabiah dia atas. Karena pada dasarnya puisi Rabiah tersebut merupakan refleksi dari peniadaan diri dari keberadaan Tuhan. Peniadaan diri (fana) dari kesemestaan Tuhan. Betapa tidak dia rela menjadi tongkat penunjuk jalan dari pada gada perang. Tongkat penunjuk jalan menunjukkan tingkat kebergunaan yang “kecil” dibandingkan dengan gada perang yang menunjukkan kegagahan tampilan.

Dikemudian hari aku baru tahu bahwa Rabiah memang nama seorang Sufi wanita yang hebat. Kekagumanku pada Rabiah semakin menjadi, hingga aku mencari buku mengenai Rabiah. Dan dimulai dari puisi ini. Terima kasih Rabiah, Terima kasih Tuhan.

1 comment:

agus_pro1601 said...

kalu 2011 gimana mas